The Diary of A Sheep
Random Thoughts are Pure Inspirations

Positive Thinking is Good But...


G baru pulang abis nemenin adek g ketemu ama Singaporean dan Medanese yang pernah g bahas di post g sebelumnya. Di sana kita banyak mendapat pelajaran berharga sekaligus melenceng.

Kita dikasi taw kalo pendidikan di Indo ga bagus dari sistem pendidikan, mind set hasil didikannya serta yang paling parah ijazahnya banyak yang masih dipertanyakan oleh perusahaan besar jika hendak melamar kerja. Khusus bagi yang akan melanjutkan kuliah ke luar negeri, nasibnya lebih tragis lagi yaitu universitas luar akan mempertanyakan keabsahan ijazah kita. Well, dalam hal ini g setuju sekali. Banyak universitas yang didirikan dengan tujuan mengeruk uang sebanyak mungkin dan tidak mementingkan kualitas pendidikan serta hasil lulusannya. Mereka ngak peduli apakah pelajaran yang diberikan sesuai standar, relevankah pelajaran yang diberikan, kompetenkah pengajarnya dan hidden curricullum seperti apakah yang diberikan kepada mahasiswa. Mereka hanya peduli apakah mahasiswa sudah membayar biaya kuliah atau belum. Jika setelah lulus nanti mahasiswanya menganggur atau gagal bersain, universitas tidak akan mau menerima keluhan atau cibiran apapun, dengan alasan mahasiswa bertanggungjawab sepenuhnya atas kegiatan akademik maupun setelahnya. Benar, g ngak membantah pernyataan di atas, namun perlu diingat kalo menjadi tanggungjawab universitas sepenuhnya untuk memberikan pendidikan yang layak sesuai dengan yang diinginkan DAN DIPERLUKAN mahasiswa. Banyak pelajaran tidak relevan yang masih diberikan kepada mahasiswa dengan alasan itu merupakan kewajiban mereka untuk mengajarkan materi tersebut. Banyak juga yang hanya ber-teori ria tanpa ada praktek yang berujung ke tumpulnya skill mahasiswa. Semua ini berujung kepada besarnya persentase kegagalan bersaing mahasiswa lulusan universitas di Indo.

Kembali ke topik awal. Kita dianjurkan untuk mengambil kuliah di luar negeri, for this case : Singapore. Memang di sana terkenal akan pendidikannya, persaingan yang ketat menumbuhkan kompetensi tiap mahasiswa, dan di sana they teach you what you need after you graduate jadi setiap mahasiswa dibekali kemampuan untuk bersaing dengan keras. Tentu saja masalah yang paling g soroti adalah masalah ekonomi keluarga. Bukannya kita tidak mau bersekolah ke luar negeri tapi semata-mata karena kondisi keuangan kurang mendukung. Jangan karena satu orang ingin bersekolah ke luar negeri, seluruh keluarga harus menderita melarat super hemat. Seminggu cuma sekali makan dengan lauk pauk, sisanya nasi putih+kecap manis/asin. Bisakah itu dilakukan ? Bisa, bahkan sangat bisa tapi apakah itu semua pantas untuk dilakukan ? I don't think so.

Beda halnya kalo universitas tersebut ada program beasiswa dan adek g sebagai anak terakhir yang akan masuk ke level university mampu untuk memperoleh beasiswa tersebut dan memiliki kompetensi untuk bersekolah di sana. Jujur saja, g masih ragu melihat ketetapan hati adek g. Nilai rapor yang masih naik turun ombak pantai Kuta tentu bukan suatu hal yang bisa dibanggakan. Kalo pun kita bisa menyekolahkan dia sampai ke luar negeri, sanggupkah dia mengemban kepercayaan kami dan uang orangtua kami yang uda banyak terkucur ? Semoga matematikanya ngak jeblok waktu sekolah, 10 + 10 = 0.

Singaporean dan Medanese sih mulai memberi kami masukan-masukan positif dan mulai menceritakan kisah sukses mereka. Dari yang awalnya nol bisa ampe sekarang ini. Jika mereka bisa kenapa kita ngak ? Semua hal di dunia ini berasal dari satu kata : BISA. Jika kamu berkata saya tidak bisa maka kamu tidak akan bisa dan tidak akan pernah bisa selama masih berpikir tidak bisa. Berpikirlah bisa maka kamu akan bisa. Terus berlanjut hingga teori Law Of Attraction dalam buku The Secret yang menghebohkan itu. Positif mengundang hal positif, negatif mengundang hal negatif juga. Jadi berpikirlah positif !

Hahahahaha, dalam hati g ketawa namun setuju dengan perkataan mereka kecuali tentang Law of Attraction karena g nga percaya sama sekali. Mereka juga lupa akan satu hal,yaitu kondisi ekonomi keluarga g. Memang kita bisa berusaha mati-matiin mencari upaya untuk menyekolahkan adek g ke luar negeri, namun apakah ortu kami masih sanggup bekerja seperti sapi perah ? Tegakah kita memaksa mereka mengeluarkan tenaga 200%, sedangkan untuk 100% aja sudah susah ? It's good to be positive and optimistic, but don't forget that each person has their own limitation. Hanya Tuhan yang unlimited.

Saat seseorang lupa akan batasan dirinya dan berusaha menggapai sesuatu yang sangat jauh, sebenarnya ia sudah tidak lagi ingat akan Tuhannya. Ia mengandalkan kekuatan sendiri sebagai manusia yang terbatas. Saat ia jatuh, ia akan merasa sangat sakit dan hancur. Namun orang yang tahu batasannya bukan berarti ia hanya duduk diam dan menerima nasibnya, Justru orang yang menyadari keterbatasannya akan berserah kepada Tuhannya supaya Dia yang bekerja dan menyampaikan kita ke sasaran yang jauh tersebut. Orang tersebut mengerti bahwa untuk menggapai sesuatu yang dikatakan mustahil haruslah menggunakan tenaga yang mustahil pula. Dalam hal ini, tenaga yang mustahil itu adalah Tuhan.

Mind-set itu penting, namun lebih penting lagi adalah mengetahui apakah yang menjadi isi dari mind-set mu.
7 comments:

well, itulah kenapa banyak orang stress idup. pengennya aiming sasaran yg JAUH mulu. bukannya lebih penting aiming sasaran yg TEPAT? emank sich kadang yg tepat itu kesannya jauh. tapi bukan jauh dari kenyataan. tapi dari kemampuan. yea, we're limited but God's unlimited. when we involve God, the you-called "tenaga yg mustahil," yea, everything's possible. :)

soal ortu? kasih itu jelas2 berkorban, right? hehe :P kita sebagai anak yg kudu do something out of our love to our parents. di idup gw, ortu gw sacrifice A LOT. financially, and some other even more important things. tapi it's okay for me. ortu berkorban sich menurut gw gapapa. as long as ga ada dendam and kitanya juga ga take it for granted. as long as it's approved by God, it means God would provide everything for us, right? :D i mean, He's a responsible God. unless it's not according to God's will. then it's another case. --" (that's why, sasaran tepat = according to God's will; sasaran jauh2 ga keruan = whatever)

wah, jadi banyak ngomong lagi nih gw. kebawa emosi. since i myself been wondering gw mau kuliah apa ya..? :P once more, sorry for annoying thine world! :D mwhahaha *evilaugh


loh, g kirain lu uda kuliah..hahahaha..

kalo pengorbanannya setimpal ama hasilnya sih it's fine..cuma kalo ortu g uda bela2in super duper menghemat buat adek sekolah ke luar negeri tapi hasilnya minim kan nyesek juga..

yang terpenting emang tny dulu ke Tuhan, gmn selanjutnya baru bertindak. kalo cuma andalin nekad, bisa ancur lebur di sana jadi bubur ayam pake kecap...hahahahaha..apa sih g ?? hahaha


segala sesuatu dimulai dari niat. niat muncul dari pikiran. pikiran positif dan optimistik sangat diperlukan saat mencapai sebuah tujuan. berdasarkan pengalaman, gue melihat adanya hubungan yang konsisten antara orang yg suka ngeluh dan kegagalan yang diraihnya. orang yg suka ngeluh adalah orang yg pastinya negative thinking dan pesimistik.

mereka yg sukses adalah orang-orang yg dapat dan selalu berpikir positif. tetapi, berpikir positif saja, tentu tdk akan menghasilkan apa-apa.

berpikir hanyalah modal awal. modal berikut adalah tindakan/action. ini yg sering dilupain dan diabaikan orang kebanyakan. ada pepatah bagus mengatakan,"mereka yg pny ide canggih sekalipun, hanyalah menjadi sekedar ide, kalau tidak disertakan niat mewujudkan ide tsb."

modal terakhir adalah doa. doa membantu kita mendekatkan diri pada Causa Prima. 3 modal ini sangat diperlukan utk mencapai target yang kita tuju.

tujuan wajib dibuat secara spesifik dan tentunya masuk akal. jangan sampai tujuan yg terlalu jauh membuat kita kehilangan realitas.

ortu tdk bisa berkorban lagi. apakah hanya mengandalkan ortu? selama ada harapan, masih banyak jalan yang terbentang di depan.


woo i'm just a little kid oey. though i'm 17, still SMA 2 nih. :P

emankk bener! klo nekad aja nasi jadi bubur. tapi still sich, klo udah terlanjur juga, when we could still surrender to God, never too late koqq. Tuhan bisa ngrubah bubur jadi bubur ayam yg enak and jauh lebih enak dari nasi. :D


umur masih 17 tapi pemikiran lu bnr2 beda,hahahah..


err, is that a compliment..? HAHHA. :P


Post a Comment

Hey, it's BobiBob !

My photo
Jakarta, Indonesia
Love books, especially good ones. Enjoy the time staying in my own room. I love Animals.

Followers

My Works


There was an error in this gadget
There was an error in this gadget